BENGKULU – Seperti yang
kita Ketahui bahwa setiap penggantian menteri pendidikan di Indonesia maka akan
berganti juga cara sistem pendidikan yang ada, misalnya saja saat menteri
pendidikan dijabat oleh Anies Baswedan, saat itu Kurikulum baru dalam dunia
pelajar muncul yang di sebut Kurikulum 13, dimana banyak siswa yang kurang
senang tapi kurikulum ini sudah berjalan di sekolah-sekolah yang ditetapkan
untuk menganut Kurikulum 13.
Masa kepemimpinan Anies Baswedan
sebagai menteri pendidikan tidak berlangsung lama karena kabinet kerja presiden
jokowi kembali di Kocok ulang dan menteri pendidikan pun kembali diganti. Dan
kini dijabat oleh Muhajir Effendi. Sejak diangkatnya dia sebagai menteri ia
mulai bekerja layaknya menteri pendidikan, program kerjanya yang fenomenal
waktu itu adalah Full day School, dimana
jam belajar siswa kembali ditambah melebihi Kurikulum 13, siswa Mulai Belajar
pada Jam 7 pagi dan pulang sekolah jam 5 sore, sementara hari sabtu dan minggu
libur.
Selain Full Day School, Pertengahan menjelang akhir tahun 2016 lalu ia
mengeluarkan wacana akan dihapusnya Ujian Nasional Tingkat SD hingga SMA. Dan pendapat
ini mendapat berbagai respon, baik itu respon yang mendukung dan juga respon
yang menolak. Susilowati adalah Kepala Sekolah SDN 69 kota Bengkulu, ia tidak
terlalu memusingkan akan adanya wacana ini baginya Ujian Nasional bisa dibilang
penting bisa juga tidak karena Ujian Nasional bisa dipakai untuk tolak ukur
kecapaian tingkat belajar siswa. Dibilang tidak terlalu penting karena tidak
semua siswa baik di bidang akademik tapi banyak siswa yang menonjol dibidang
non-Akademik.
Susilowati berharap jika Ujian
Nasional Dihapus maka diganti dengan sistem yang lebih baik sementara jika
ujina nasional tetap ada maka sistemnya harus diperbaiki, sehingga Ujian
Nasional tidak Menjadi “Momok” bagi siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar